PBNU Soroti Hubungan Indonesia-Kamboja sejak Masa Kerajaan Sriwijaya hingga Walisongo - NU Online

 

PBNU Soroti Hubungan Indonesia-Kamboja sejak Masa Kerajaan Sriwijaya hingga Walisongo

Phnom Penh, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam-Budha di Sokha Hotel Phnom Penh, Kamboja, Kamis (27/2/2025).


Konferensi ini merupakan KTT Budha-Islam yang pertama diselenggarakan atas inisiatif Liga Muslim Dunia (MWL) dengan Kerajaan Kamboja. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Ginanjar Sya'ban hadir mewakili Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam konferensi ini.


Dalam pidato yang dibacakannya, Ginanjar menyoroti hubungan sejarah peradaban dan agama yang sama antara Indonesia dan Kamboja. Secara historis, hubungan ini telah berlangsung sejak era Kerajaan Sriwijaya hingga masa Walisongo.


"Di Kamboja dan Indonesia, kita memiliki sejarah peradaban dan agama yang sama, terutama pada masa Kerajaan Sriwijaya di Sumatra, Kerajaan Khmer di Kamboja, dan Kerajaan Majapahit di Jawa," ujar Ginanjar.


Menurutnya, para penguasa dan cendekiawan Khmer banyak yang belajar ke Sriwijaya. Catatan bersejarah ini tercantum dalam literatur Arab klasik, salah satunya Al-Masalik wal Mamalik karangan Al Mas'udi.


Ia juga menyebut penyebaran Islam di Asia Tenggara memberikan contoh unik tentang toleransi, dialog, dan koeksistensi damai, seperti yang dilakukan oleh Walisongo di Jawa.


Pada masa Walisongo juga tercatat beberapa pendakwah merupakan keturunan dari Campa, Kamboja yang kini wilayahnya dihuni oleh mayoritas penduduk Muslim.


Melalui dua gambaran historis ini, Ginanjar mendorong agar promosi nilai-nilai toleransi dan dialog peradaban harus terus diupayakan sebagai sebuah sejarah yang kelak dicontoh oleh generasi penerus setiap bangsa.


"Sejarah telah memberikan kita pelajaran yang berharga. Kita harus bekerja sama untuk mewariskan peradaban yang menjadi contoh bagi generasi mendatang," ujar Ginanjar.


"Kita perlu mempromosikan nilai-nilai dialog peradaban, cinta, perdamaian, toleransi, dan koeksistensi, serta menyebarkan dan memperkuatnya untuk mencapai solusi yang disepakati atas berbagai masalah yang dihadapi masyarakat manusia," imbuhnya.


Menanggapi apa yang disampaikan Wasekjen PBNU itu, Menteri Urusan Agama dan Pimpinan Umat Budha Kamboja Chay Borin mengapresiasi penyampaian sejarah hubungan Indonesia dengan Kamboja yang telah terjalin sejak berabad-abad silam.


Melalui keterangan Ginanjar, Chay Borin menyebut, "Ini adalah modal penting untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Kamboja."


Hubungan yang dimaksud bukan semata-mata terbatas pada hubungan dagang, politik, dan ekonomi. Namun, hubungan kedua negara ini memiliki sejarah bersama dan ikatan keagamaan yang kuat pada masa Budha (Sriwijaya dan Khmer Angkor Wat) dan pada masa Islam (walisongo).


Toleransi dan solidaritas umat beragama di Kerajaan Kamboja

Melansir Khmer Times, dalam pidatonya, Perdana Menteri Kamboja Samdech Moha Borvor Thipadei Hun Manet juga menyoroti aspek historis yang terkait dengan Khmer Cham. Hun Manet menyebut raja-raja Khmer dari semua generasi mengizinkan komunitas Cham, yang merupakan pengungsi dari perang untuk menetap di Kamboja dan ikut serta bergabung dalam perjuangan mempertahankan Kamboja selama era kolonial Prancis. 


Selama periode kolonial Prancis, Raja Pastor Norodom Sihanouk menamai kelompok minoritas tersebut “Khmer Islam” setelah Kamboja memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tahun 1953. 


Dengan begitu, kelompok minoritas Cham diperbolehkan menjadi warga negara Khmer, menjalankan Islam secara sah, dan berintegrasi ke dalam masyarakat Khmer sambil tetap mempertahankan identitas asli mereka.


"Tidak ada agama yang mengajarkan orang untuk berbuat dosa. Semua agama membimbing para pengikutnya menuju moralitas, kebajikan, kasih sayang, kejujuran, dan kebaikan bagi manusia dan semua makhluk hidup di bumi," katanya.


Saat ini, lima persen masyarakat Kamboja merupakan pemeluk agama Islam. Sedangkan mayoritas masyarakatnya yakni sebanyak 93 persen adalah pemeluk agama Budha dan sisanya pemeluk agama dan kepercayaan lain. Dalam perbedaan keyakinan tersebut, mereka dapat hidup saling berdampingan dalam solidaritas dan toleransi. 


Sebagai informasi, KTT Budha-Islam pertama di Kamboja yang mengusung tema Dialog Peradaban dalam Melayani Kemanusiaan ini dihadiri oleh sekira 180 delegasi dari 31 negara.

Baca Juga

Komentar

 Pusatin9 


 Postingan Lainnya 

Baca Juga