Romadhon
RRI.co.id - Mengenal ‘Meugang’ Tradisi Ramadan Masyarakat Aceh

KBRN, Jakarta: Menjelang bulan Ramadan, masyarakat Aceh melakukan tradisi Meugang. Tradisi Meugang merupakan tradisi dengan pembelian daging segar untuk dimasak sebagai menu utama di bulan Ramadan.
"Ini tradisi turun menurun dari nenek moyang. Dilaksanakan seminggu sebelum Ramadan," kata Tokoh Masyarakat Aceh Utara, Fauzi Yusuf dalam perbincangan bersama RRI, Jumat (28/2/2025).
Fauzi menyampaikan tradisi Meugang ini dengan membeli daging Sapi yang diperjualbelikan di sebuah pasar. "Kalau masyarakat merasakan jika belum beli daging Meugang, rasanya seperti nggak jadi puasanya," ujarnya.
Fauzi mengatakan, harga daging Sapi yang dijual di pasar dalam tradisi Meugang ini tetap normal. Seperti untuk hari ini harga daging Sapi di kisaran Rp150.000 hingga Rp170.000 per kilogramnya.
"Nantinya daging itu tergantung mau dimasak apa oleh masyarakat. Tapi biasanya masak rendang," ucapnya.
Untuk diketahui, asal usul dari Tradisi Meugang ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Sultan memerintahkan anak buahnya untuk menyembelih hewan dan membagikannya kepada masyarakat kurang mampu, anak-anak yatim, dan membagikan sembako dan kain.
Sultan Iskandar Muda menjadikan tradisi ini sebagai aturan yang tertulis dalam qanun atau Perda. Makna dari tradisi ini mengandung nilai religius dengan bersedekah atau saling berbagi dengan sesama.
Tradisi ini juga memupuk nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dan tradisi ini juga sebagai bentuk solidaritas. Pelaksanaan tradisi Meugang seperti di desa-desa, biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadan atau hari raya.
Sementara di kota, tradisi ini berlangsung dua hari sebelum Ramadan atau hari raya. Masyarakat memasak daging di rumah dan disantap bersama keluarga atau dibagi-bagikan kepada tetangga dan kerabat.
Komentar
Posting Komentar